Tugas Etika Bisnis

TUGAS ETIKA BISNIS

 MEMBANDINGKAN DAN MENGANALISA DUA IKLAN YANG SEJENIS BERDASARKAN ETIKA IKLAN

 Logo Narotama

 

OLEH :

IKA YULIA                              01112059

 

UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA

TAHUN 2014

 

 

TUGAS ETIKA IKLAN

MEMBANDINGKAN DUA IKLAN YANG SEJENIS

Pada kasus berikut saya mengambil iklan tentang property yaitu penjualan apartemen. Kedua Iklan ini saya ambil di Jl. Ir. Sukarno MERR Surabaya yaitu Apartemen Bale Hinggil dan Apartemen Gunawangsa. Dimana kedua apartemen tersebut teletak berhadapan dan hanya dipisahkan oleh sungai. Keduanya terletak di tempat yang strategis. Akan tetapi penempatan iklannya lebih strategis untuk Iklan Apartemen Gunawangsa yaitu deket dengan Lampu Merah MERR. Dimana orang akan mudah membacanya karena untuk menghilangkan rasa bosan menunggu Lampu Hijau untuk melanjutkan perjalananya. Sedangkan letak ilkan apartemen Bale Hinggil terletak di tempat yang tidak menjadi pemberhentian orang, hanya iklan tersebut lebih tinggi dari iklan yang lain jadi lebih terlihat jelas walaupun dari kejauhan dan ukurannya lebih besar.

Iklan yang saya ambil adalah iklan Apartemen dimana ini merupakan iklan yang bersifat Persuasif. Yaitu iklan tentang produk yang ada banyak mereknya akan memiliki unsur persuasif yang lebih menonjol, seperti iklan tentang pakaian bermerek dan rumah.

Iklan adalah pesan singkat yang sifatnya membujuk/mendorong orang untuk melihat iklan tersebut karena pesan yang disampaikan secara singkat dengan menggunakan kata-kata ataupun tulisan yang menarik untuk dibaca/dilihat dan akhirnya pun khalayak akan tergiur untuk membaca barang/jasa yang diiklan kan itu. Apalagi ditambah dengan grafis-grafis yang bagus,unik,dan eye-catching bisa menjadi nilai plus untuk sebuah iklan itu sendiri.

 

 

Analisis Iklan Apartemen Bale Hinggil

 gunawangsa

  Sumber foto : hasil foto sendiri yang langsung diambil di lokasi Iklan

Penggunaan Bahasa Dalam Iklan

  1. Penggunaan bahasa dalam iklan tersebut di atas sangatlah singkat. Sehingga orang kurang mengerti harga dan fasilitas yang ditawarkan. Tetapi mungkin ini sengaja di buat seperti itu agar orang penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjutnya untuk datang sendiri di kantor pemasarannya atau menghubungi no. telpon yang tertera di Iklan tersebut.

       Sesuai dengan pengertian iklan yaitu Segala bentuk pesan yang disampaikan oleh suatu media yang dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, serta                     ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat (PPPI). Sehingga iklan tersebut dibuat sesimpel mungkin untuk menghemat biaya atau sesuai                   dengan budget dari perusahaan.

  1. Bahasa yang digunakan adalah Inggris akan tetapi kata “ Apartemen @ Surabaya ”, tidak sesuai dengan kaidah bahasa Inggris dalam penulisannya seharusnya menggunakan kata “at” agar orang awam yang tidak mengerti tentang bahasa komputerisasi dan email dapat mengerti arti kata tersebut dan dapat juga membacanya.

Atau memang dibuat seperti itu iklannya karena segmentasi dari pemasarannya adalah orang menengah keatas atau kalangan orang-orang pebisnis. Sehingga mungkin akan membuat orang lebih tertarik dan menunjukkan apartemen yang berkelas setara bintang 5. Dan mungkin pengusahanya telah menyiapkan untuk perdagangan bebas di tahun 2015 dimana orang asing akan banyak datang di Indonesia dan mereka bisa langsung membeli dengan hanya melihat iklannya saja.

  1. Informasi tentang harga dan fasilitas yang ditawarkan tidak tercantum dalam iklan. Sedangkan bentuk iklan Apartemen adalah salah satu bentuk iklan persuasive. Dimana Iklan ini merupakan iklan yang berusaha mempersuasif khalayak untuk membeli Apartemen dengan cara menginformasikan keistimewaan yang dimiliki produk ini.

  ANALISIS IKLAN GUNAWANGSA APARTEMEN

 bale hinggil

 

 

          Sumber Foto : Hasil Mepotretan sendiri yang langsung dilakukan di lokasi iklan

Iklan apartemen Gunawangsa merupakan Iklan yang bersifat persuasive dimana iklan tersebut berusaha mempersuasif khalayak untuk membeli Apartemen dengan cara menginformasikan keistimewaan yang dimiliki produk ini.

Dilihat dari bahasa yang digunakan iklan apartemen Gunawangsa sudah cukup jelas dan informative karena terdapat tentang harga dan fasilitas yang ditawarkan. Iklan tersebut memuat harga perunitnya dengan cukup besar untuk menarik perhatian masyarakat atau konsumen. Dimana apartemen ini disegmentasikan untuk kalangan menengah kebawah agar bisa memiliki sebuah tempat tinggal dikarenakan harganya standar untuk kalangan menengah kebawah dan dimana ada kata DP 0% ini sangat menarik bagi kalangan yang berpendapatan UMK. Akan tetapi iklan ini tidak memperjelas untuk angsurannya.

Di dalam iklan hanya disebutkan angsuran 5-Jutaan per bulan, sangat sesuai dengan pengertian iklan yaitu menggunakan bahasa atau permaianan kata untuk membuat orang tertarik.

Tempat Iklan ini sangat strategis didekat Lampu Merah MERR, ini juga sebenarnya dapat membahayakan. Karena mungkin ada yang keasyikan membaca sehingga tidak mengetahui lampu hijau telah menyala, yang menyebabkan kendaraan dibelakangnya harus menunggu sehingga menganggu kenyamanan orang lain dalam berlalu lintas.

Alangka lebih baik bila di tempatkan di depan lampu merah agak jauh sedikit tetapi letaknya cukup tinggi mungkin akan lebih menarik lagi.

Untuk gambar dan kata-kata pada iklan tersebut diatas cukup jelas dan menarik.

 

TUGAS ETIKA BISNIS

ULASAN PADA IKLAN PENGEMBANG PROPERTI “SUMMARECON SERPONG”

KORAN KOMPAS, SELASA, 17 DESEMBER 2013

Perusahaan pengembang property ini mengunakan konsep “go Green dalam mengembangkan bisnisnya. Dimana konsep “go-Green” ini dipakai oleh perusahaan tersebut dalam mengembangkan bisnisnya baik pada arsitektur maupun kehidupan sosial.

Perusahaaan property ini mendesain produknya dengan konsep alami. Perumahan dengan fasilitas lengkap mulai dari Sekolah, Business Park, Apartemen, Food Village, universitas multimedia, dan suya Research dan education center. Dimana semua fasilitas yang ada dikembangkan dengan dasar-dasar lingkungan menjadi prinsip utamanya. Selain itu kluster-kluster perumahan dan bangunan di Summarecon Serpong mencerminkan gagasan “hijau”yang fungsional. Bahan bangunan yang digunakan berstandart ISO yang ramah lingkungan.

Sesuai dengan Etika Bisnis pada Buku pengantar Etika Bisnis pengarang K. Bertens Edisi Revisi, Iklan tersebut menganut teori tentang Utilitarianisme dimanateori tersebut berbunyi bahwa :

Utilitarianisme berasal dari kata latin utilis yang berarti bermanfaat.

Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.  

 

Hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang terdapat diiklan yaitu “Kami berkembang dengan tetap menghargai dan menjaga bumi serta perusahaan ini mengembangkan konsep usaha Go-Green. hal itu membawa manfaat paling besar bagi umat manusia sebagai keseluruhan, termasuk juga generasi-generasi  sesudah kita. Upaya pembangunan berkelanjutan (sustainable development) menjadi tanggung jawab moral kita.

Selain itu iklan ini bermaksud juga sebagai CSR (corporate social responsibility atau social responsibility of corporation) perusahaan terhadap masyarakat sekitar. Program go-green yang dikembangkan bermaksud juga sebagai tanggung jawab moral perusahaan kepada masyarakat sekitar.

Hal itu sudah dibuktikan oleh perusahaan dengan mendapatkan penghargaan Green Company dan pemimpin pelestari bumi.

1007201416303510072014163034

TUGAS ETIKA BISNIS

RANGKUMAN BUKU ETIKA BISNIS

BAB I

PENDAHULUAN : BISNIS DAN ETIKA DALAM DUNIA MODERN

I. Tiga Aspek Pokok dari bisnis

Bisnis modern merupakan realitas yang amat kompleks. Banyak faktor turut mempengaruhi dan menentukan kegiatan bisnis. Antara lain ada faktor organisatoris-manajerial, ilmiah-teknologis, dan politik-sosial-kultural. Bisnis sebagai kegiatan sosial bisa disoroti sekurang-kurangnya dari tiga sudut pandang yang berbeda tetapi tidak selalu mungkin dipisahkan ini : sudut pandang ekonomi, hukum dan etika.

  1. Sudut Pandang Ekonomis

Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi dalam kegiatan ini adalah tukar-menukar, jual-beli, memproduksi-memasarkan, bekerja-memperkerjakan, dan interaksi manusiawi lainnya. Dengan maksud memperoleh untung. Bisnis bukanlah karya amal. Karena itu bisa timbul salah paham, jika kita mengatakan bisnis merupakan suatu aktivitas sosial.

Kata sosial disini tidak dimaksudkan dalam arti suka membantu orang lain, sebagaimana sering dimengerti dalam bahasa Indonesia, kususnya dalam konteks popular. Bisnis justru tidak mempunyai sifat membantu orang dengan sepihak, tanpa mengharapkan sesuatu kembali.

Teori ekonomi menjelaskan bagaimana dalam sistem ekonomi pasar bebas para pengusaha dengan memanfaatkan sumber daya yang langka (tenaga kerja, bahan mentah, informasi, modal) menghasilkan barang dan jasa yang berguna untuk masyarakat. Jika kompetisi pada pasar bebas berfungsi dengan semestinya akan menyusul efisiensi ekonomis artinya hasil maksimal akan dicapai dengan pengeluaran minimal.

Dipandang dari sudut ekonomis, good business atau bisnis yang baik adalah bisnis uang membawa banyak untung.

  1. Sudut pandang moral

Dengan tetap mengakui peranan sentral dari sudut pandang ekonomis dalam bisnis, perlu segera ditambahkan adanya sudut pandang lain lagi yang tidak boleh diabaikan, yaitu sudut pandnag moral. Selalu ada kendala etis bagi perilaku kita, termasuk juga perilaku ekonomis. Tidak semuanya yang bisa kita lakukan untuk mengejar tujuan kita (dibidang bisnis : mencari keuntungan) boleh kita lakukan juga. Kita harus menghormati kepentingan dan hak orang lain. Pantas diperhatikan lagi bahwa dengan itu kita sendiri tidak dirugikan. Sebaliknya, menghormati kepentingan dan hak orang lain harus dilakukan juga demi kepentingan bisnis itu sendiri.

Bisnis yang baik (good business) bukan saja bisnis yang menguntungkan. Bisnis yang baik adalah juga bisnis yang baik secara moral. Malah harus ditekanankan. Artinya moralnya merupakan salah satu arti penting bagi kata baik. Perilaku yang baik – juga dalam konteks bisnis-merupakan perilaku yang sesuai dengan norma-norma moral, sedangkan perilaku yang buruk bertentangan dengan atau menyimpang dari norma-norma moral. Suatu perbuatan dapat dinilai baik menurut arti terdalam justru kalau memenuhi standar etis itu.

  1. Sudut pandang hukum

Tidak bisa diragukan, bisnis terikat juga oleh hukum. Hukum dagang atau hukum bisnis merupakan cabang penting dari ilmu hukum modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan dengan bisnis. Pada taraf nasional maupun internasional, seperti etika pula, hukum merupakan sudut pandang normative, karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma hukum bahkan lebih jelas dan pasti daripada etika, karena peraturan hukum dituliskan hitam atas dan ada sanksi tertentu, bila terjadi pelanggaran.

Walaupun terdapat hubungan erat anatara norma hukum dan norma etika, dua macam norma itu tidak sama. Disamping sudut pandang hukum, kita tetap membutuhkan sudut pandang moral. Untuk itu dapat dikemukakan bebrapa alasan :

  1. Banyak hal bersifat tidak etis, sedangkan menurut hukum tidak dilarang. Tidak semuanya yang bersifat immoral adalah illegal juga. Menipu teman waktu main kartu atau menyontek waktu mengerjakan ujian sekolah merupakan perbuatan tidak etis, tetapi dengan itu orang tidak melanggar hukum.
  2. Untuk perlunya sudut pandang moral disamping sudut pandang hukum adalah bahwa proses terbentuknya undang-undang atau peraturan-peraturan hukum lainnya memakan waktu lama, sehingga masalah-masalah baru tidak segera bisa diatur secara hukum.
  3. Hukum itu sendiri sering kali bisa disalahgunakan. Perumusan hukum tidak pernah sempurna, sehingga orang yang beritikad buruk bisa memanfaatkan celah-celah dalam hukum (the loopholes of the law). Peraturan hukum yang dirumuskan dengan cara teliti sekalipun, barangkali masih memungkinkan praktek-praktek kurang etis yang tidak bertentangan dengan huruf hukum.
  4. Bisa terjadi, hukum memang dirumuskan dengan baik, tetapi karena salah satu alasan sulit untuk dilaksanakan, misalnya, karena sulit dijalankan control yang efektif. Tidak bisa diharapkan, peraturan hukum yang tidak ditegakkan akan ditaati juga.
  5. Perlunya sudut pandang moral disamping sudut pandang hukum adalah bahwa hukum kerap kali mempergunakan pengertian yang dalam konteks hukum itui sendiri tidak didefiniskan dengan jelas dan sebenarnya diambil dari konteks moral. Contoh pengertian kata bonafit.

untuk bisnis sudut pandang hukum tentu penting. Bisnis harus mentaati hukum dan peraturan yang berlaku. Bisnis yang baik antara ;lain berarti juga bisnis yang patuh pada hukum.

  1. Tolak ukur untuk tiga sudut pandang ini

Tolak Ukur untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau tingkah laku adalah dengan :

a. Hati nurani

Suatu perbuatan adalah baik, jika dilakukan sesuai dengan hati nurani, dan suatu perbuatan lain adalah buruk, jika dilakukan bertentangan dengan suara hati nurani. Dalam bertindak bertentangan dengan hati nurani, kita menghancurkan integritas pribadi, karena kita menyimpang dari keyakinan kita yang terdalam. Tetapi bagi orang beragama hati nurani mempunyai arti kusus. Kalau dia mengambil keputusan moral atas dasar hati nurani, keputusannya diambil “di hadapan Tuhan”. Ia insaf dengan itu memenuhi kehendak Tuhan atau justru melanggar perintah Tuhan.

 b. Kaidah Emas

Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya perilaku moral adalah mengukurnya dengan kaidah Emas yang berbunyi : “ Hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana Anda sendiri ingin diperlakukan”.

Kadiah Emas dapat dirumuskan dengan cara positif maupun negative. Tadi diberikan perumusan positif. Bila dirumuskan secara negative, Kaidah Emas berbunyi, “ Janganlah melakukan terhadap orang lain, apa yang anda sendiri tidak ingin akan dilakukan terhadap diri Anda”.

 c. Penilaian umum

Cara ketiga dan barangkali paling ampuh untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku adalah menyerahkannya kepada masyarakat umum untuk dinilai.   Tidak cukup, bila suatu masyarakat terbatas menilai kualitas etis suatu perbuatan atau perilaku. Sebab mungkin mereka mempunyai vested interest, sehingga cenderung membenarkan saja perilaku yang mengguntungkan mereka, sambil menipu dirinya sendiri tentang kualitas etisnya.

II. Apa itu Etika Bisnis

 

Cara yang kami pilih untuk menganalisis arti-arti “etika” adalah membedakan antara “etika sebagai Praksis” dan “etika sebagai Refleksi”.

Etika sebagai praksis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun sehausnya dipraktekkan. Etika sebagai praksis adalah apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral. Contoh : orang yang mengeluh bahwa etika bisnis mulai menipis, bermaksud bahwa pebisnis sering menyimpang dari nilai dan norma moral yang benar, jadi ia menunjuk kepada etika sebagai praksis. Etika sebagai praksis sama rtinya dengan moral atau moralitas: apa yang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan, pantas dilakukan dan sebagainya.

Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berfikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Etika sebagai refleksi berbicara tentang etika sebagai praksis atau mengambil praksis etis sebagai obyeknya etika refleksi menyoroti dan menilai baik buruknya perilaku orang.

Tetapi etika sebagai refleksi bisa mencapai taraf ilmiah juga. Hal ini terjadi, nila refleksi dijalankan dengan kritis, metodis, dan sistematis. Karena tiga cirri inilah membuat pemikiran mencapai taraf ilmiah.

Etika adalah cabang filsafat yang mempelajari baik buruknya perilaku manusia. Karena itu etika dalam arti ini sering disebut juga “Filsafat Praktis”. Namun demikian, pada kenyataannya etika filosofis pun tidak jarang dijalankan pada taraf sangat abstrak, tanpa hubungan langsung dengan realitas sehari-hari.

Seperti etika terapan pada umunya, etika bisnis pun dapat dijalankan pada tiga taraf : taraf makro, meso, dan mikro. Tiga taraf ini berkaitan dengan tiga kemungkinan yang berbeda untuk menjalankan kegiatan ekonomi dan bisnis.

Pada taraf makro, etika bisnis mempelajari aspek-aspek moral dari system ekonomi sebagai keseluruhan. Contoh. Aspek-aspek etis dari kapitalisme dan globalisasi.

Pada taraf meso (madya atau menengah), etika bisnis menyelidiki masalah-masalah etis di bidang organisasi. Contoh : organisasi serikat buruh, lembaga konsumen, pemasok dan investor.

III. Perkembangan Etika Bisnis

Etika dalam bisnis mempunyai riwayat yang sudah panjang sekali, sedangkan umur etika bisnis masih muda sekali. Etika bisnis dalam arti kusus ini untuk pertama kali timbul di Amerika Serikat dalam tahun 1970-an dan agak cepat meluas ke kawasan dunialainnya. Dengan memanfaatkan dan memperluas pemikiran De George ini dapat membedakan lima periode dalam perkembangan etika dalam bisnis menjadi etika bisnis ini.

1. Situasi dahulu

Di Amerika Serikat selama paro pertama abad ke-20 etika dalam bisnis terutama dipraktekkan dalam konteks agama dan teologi. Dan pendekatan ini masih berlangsung terus sampai hari ini, di Amerika Serikat maupun di tempat lain.

2. Masa Peralihan : Tahun 1960-an

Suasana konsumerisme semakin dilihat sebagai tendensi yang tidak sehat dalam masyarakat dan diakibatkan oleh bisnis modern antara lain dengan kampanye periklanan yang sering kali berlebihan. Semua factor ini mengakibatkan suatu sikap anti bisnis pada kaum muda khususnya mahasiswa.

Dunia pendidikan menanggapi situasi ini dengan cara berbea-beda. Salah satu reaksi paling penting adalah memberi perhatian khusus kepada Social issues dalam kuliah tentang manajemen. Pendekatan ini diadakan dari segi manajemen dengan sebagaian melibatkan juga hukum dan ssosiologi, tetapi teori etika filosofis di sini belum dimanfaatkan.

3. Etika bisnis lahir di Amerika Serikat : Tahun 1970 an

Ada dua factor yang memberi kontribusi besar kepada kelahiran etika bisnis di amerika Serikat pada petengahan tahun 1970-an.

  1. Sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-maslah etis sekitar bisnis, dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di Amerika Serikat.
  2. Krisis moral yang dialami dunia bisnis Amerika Serikatpada awal tahun 1970-an.
  3. Etika Bisnis Meluas Ke Eropa : Tahun 1980-an.

Di Eropa Barat etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira sepuluh tahun kemudian, mula-mula di Inggris yang secara geografis maupun cultural paling dekat dengan AS, tetapi tidak laama kemudian juga di Negara-negara Eropa Barat lainnya. Semakin banyak fakultas ekonomi atau sekolah bisnis di Eropa mencantumkan mata kuliah etika bisnis dalam kurikulumnya.

4. Etika bisnis menjadi fenomena Global : yahun 1990-an

Tanda bukti bagi sifat global etika bisnis adlah didirikannya International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE). Di situ antara lain dibawakan 12 laporan tentang situasi etika bisnis di berbagai kawasan dunia.

IV. Faktor Sejarah Dan Budaya dalam Etika Bisnis

Pandangan etis tentang perdagangan dan bisnis berkaitan erat dengan factor sejarah dan budaya. Adapun faktor sejarah dan budaya adalah :

1. Kebudayaan Yunanai Kuno

Penolakan terhadap perdagangan dan kekayaana diberi dasar lebih teoritis oleh Aristoteles (384-322SM). Bisnis selalu mengandung unsure mencari keuntungan, Aristoteles menolak bisnis dalam arti modern itu sebagai tidak etis. Dia membedakan antara kegiatan ekonomi dan kegiatan Krematistik.

Kegiatan Ekonomi adalah tukar-menukar untuk memebuhi kebutuhan rumah tangga. Sedangkan kegiatan Krematistik adalah tukar menukar barang dengan uang hanya untuk menambah kekayaan.

2. Agama Kristen

Periode Kristiani sebelum Reformasi bisnis dianggap tidak etis atau sekurang-kurangnya sangat dicurigakan. Pada waktu itu pebisnis yang bermoral sebetulnya sama dengan kontradiksi dalam sebutan. Mengambil profit dari kegiatan dagang dinilai sama dengan profiteering (pencatutan atau pengambilan keuntungan berlebih-lebihan).

3. Agama Islam

Suatu percobaan untuk keluar dari masalah moral adalah membedakan antara riba dan bunga uang. Dalam kalangan Islam dewasa ini tidak semua orang bisa menerima pembedaan antara riba dan bunga uang ini, sehingga pandagan tentang masalah moral ini menjadi berbeda.

4. Kebudayaan Jawa

Dalam tradisi kebudayaan Jawa kekayaan ternyata dicurigakan. Pandangan ini tentu tidak kondusif untuk memajukan semnagat kewiraswastaan. Secara spontan kekayaan tidak dihargai sebagai hasil jerih payah seseorang atau sebagai prestasi dalam berusaha.

5. Sikap Modern Dewasa Ini

bisnis dalam modern dewasa ini intinya adalah janaganlah bisnis sampai menjadi pekerjaan kotor. Bisnis harus tahu diri. Bisnis harus memperhatikan rambu-rambu moral. Bisns membutuhkan etika.

V. KRITIK ATAS ETIKA BISNIS

1. Etika Bisnis mendiskriminasi

Peter Drucker mengajukan keberatan bahwa etika bisnis menjalankan semacam diskriminasi.  Kritik itu dibals dengan cara yang tidak kalah tajam oleh beberapa pakar di bidang ertika bisnis.

Etika bisnis adalah penerapan prinsip-prinsp moral yang umum atas suatu bidang yang kusus. Etika bisnis menjadi suatu ilmu dengan identitas tersendiri, bukan karena adanya norma-norma yang tidak berlaku untuk bidang lain, melainkan karena aplikasi norma-norma moral umum atas suatu wilayah kegiatan manusiawi yang minta perhatian khusus. Sebab keadaannya dan masalah-masalahnya mempunyai corak tersendiri.

2. Etika Bisnis Itu Kontradiktif

Keberatan atas etika bisnis adalah : masa mau memikirkan etika dalam menjalankan bisnis!

Dijawab: Etika dan bisnis itu bagaikan air dan minyak, yang tidak meresap yang satu ke dalam yang lain. Dalam buku ini akan dijawab pertanyaan tersebut pada Bab 12 no. 2 mengapa bisnis harus berlaku Etis.

3. Etika Bisnis Tidak Praktis

Menurut Stark : Etika BIsnis itu kurang praktis.

Tanggapan :

  1. Stark hanya memandang dan mengutip artikel dan buku ilmiah tentang etika bisnis. Sedangkan dalam pengajaran etika bisnis, banyak dipakai metode kasus.
  2. Stark tampak sebagai contoh jelas tentang tendensi Amerika Utara untuk mengutamakan tahap mikro dalam etika bisnis.

Perlu diakui, tahap meso dan makro memang kurang praktis dan seringkali cukup jauh dari realitas kita sehari-hari, namun harusdinilai penting juga.

  1. Sebagai ilmu etika bisnis selalu bergerak pada taraf reflex dan akibatnya pada taraf teoritis juga. Walaupun etika bisnis berbicara tentang hal-hal yang sangat praktis, pembicaraannya berlangsung pada taraf teorities.

 4. Etikawan tidak bisa mengambil alih tanggung jawab.

Etika bisnis sama sekali tidak bermaksud mengambil alih tanggung jawab etis dari para pebisnis, para manajer, atau para pelaku moral lain dibidang bisnis. Etika bisnis bisa membantu untuk mengambil keputusan moral yang dapat dipertanggung jawabkan, tepi tidak berniat mengganti tempat dari para pelaku moral dalam perusahaan.

CCF10072014_00002

CCF10072014_00001

CCF10072014_00000

Tugas Manajemen Strategik (UAS)

TUGAS MANAJEMEN STRATEGIK

Logo Narotama

Nama : IKA YULIA 

NIM : 01112059

 

SEJARAH PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA ITS

Prodi Perencanaan Wilayah Dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya berada pada lingkup Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Program ini dibuka pada tahun akademik 2002/2003, dengan daya tampung sebanyak 60 mahasiswa tiap tahun. Dasar hukum pendirian program studi ini adalah sebagai berikut:

–          Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

–          Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi.

–          Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum.

Pada tanggal 25 Agustus 2001 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memberikan ijin penyelenggaraan Program Studi Perencanan Wilayah dan Kota ITS melalui Surat Dirjen Dikti Nomor: 2825/D/T/2001 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Program-program Studi Jenjang Program Sarjana (S-1) pada Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Berdasarkan surat ijin tersebut selanjutnya Prodi PWK ITS mulai menerima mahasiswa baru pada tahun akademik 2002/2003 melalui jalur SPMB. Gedung Prodi PWK ITS masih menjadi satu dengan gedung Jurusan Arsitektur ITS dikarenakan Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota memang pecahan dari Jurusan Arsitektur ITS pada Tahun 2008 Prodi PWK baru mempunyai gedung sendiri dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan juga administrasinya.

Selama berdiri Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota baru mendapatkan Akreditasi Prodi pada Tahun 2010 dengan Predikat B. Dikarenakan pada waktu itu Prodi PWK belum berkonsentrasi pada penataan Prodi tetapi berkonsentrasi pada pembangunan Prodi. Pada Tahun 2014 Prodi Perencanaan Wilayah Dan Kota berubah menjadi Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS.

VISI Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS

Menjadi Jurusan dengan reputasi internasional dalam bidang perencanaan wilayah Dan Kota secara berkelanjutan dalam rangka mendukung otonomi daerah dan pembangunan nasional.

MISI Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS

  1. Melaksanakan program pendidikan dan kegiatan penelitian di bidang perencanaan Wilayah Dan Kota yang bereputasi internasional.
  2. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang PWK.
  3. Menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang berkelanjutan.
  4. Mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan pembangunan Nasional melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan membuat produk inovasi dalam bidang perencanaan wilayah dan kota

Tujuan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

  1. Mengembangkan program pendidikan bertaraf internasional dalam bidang keilmuan yang diarahkan kepada perencanaan tata ruang kawasan pesisir dan lautan.
  2. Mencetak peserta didik untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip teknik perencanaan melalui pemikiran yang kritis dan analitis secara intelektual, sosial dan kultural.
  3. Meningkatkan program penelitian bereputasi internasional dan memberi kontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
  4. Memperkuat jaringan kerjasama di tingkat nasional dan internasional untuk meningkatkan pelayanan yang relevan dengan menjawab masalah atau kebutuhan empiris di tingkat nasional dan internasional.

 Analisa SWOT dari visi , Misi Dan Tujuan Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota

Analisa dalam lingkup Internal :

Kekuatan :

  1. Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS merupakan Program Studi Negeri kedua di Jawa Timur setelah UNIBRAW.
  2. Posisi Geografis Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS yang terletak di Indonesia bagian timur berpotensi untuk melakukan jejaring yang masih banyak belum tersentuh.
  3. Adanya perkembangan tentang otonomi daerah menyebabkan lulusan PWK makin dibutuhkan.

Kelemahan :

1. Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS belum begitu dikenal oleh stakeholders, baik   kalangan pemerintahan maupun swasta dan oleh kalangan pelajar sendiri.

2. Ada anggapan bahwa studi di PWK ruang lingkup pekerjaannya sempit, hanya mengandalkan proyek pemerintah saja.

Analisa dalam lingkup Eksternal :

Peluang :

  1. Perkembangan manajemen kepemerintahan (utamanya) karena adanya otonomi daerah yang membuat kebutuhan sarana dan prasarana pemenuhan kebutuhan masyarakat makin membutuhkan SDM dibidang perencanaan ketata ruangan.
  2. Potensi membuat jejaring dengan pemanfaatan ruang khususnya di kawasan Indonesia Timur yang cukup tinggi.

 Ancaman :

1. Penurunan Kualitas dan Kinerja Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota.

Sikap yang diambil dalam mengatasi peluang dan ancaman adalah :

–             Lebih keras mengenalkan Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS kepada masyarakat luas kususnya wilayah Jawa Timur.

–             Membuat jejaring atau kerja sama dengan pemerintah-pemerintah Daerah di Indonesia dan Konsultan-Konsultan Perencanaan.

–             Memperbaiki Kualitas SDM Dosen Karyawan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

–             Memperbaiki kinerja dan menata administrasi secara baik dan sesuai dengan prosedur.

Teknik – teknik yang dilakukan adalah :

–             Melakukan promosi-promosi ke Sekolah menengah umum di surabaya dan di daerah-daerah di Jawa Timur.

–         Mengadakan seminar maupun workshop Nasional Dan Internasional yang mengundang instansi pemerintah dan juga swasta serta Universitas Luar Negeri dalam mengenalkan tentang Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS.

–             Melaksanakan Pengabdian kepada masyarakat dalam bidang Perencanaan Wilayah Dan Kota dalam bentuk pemberian penyuluhan pada Instansi Pemerintahan maupun melaksanakan riset dalam bidang Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS.

–       Menjadi anggota organisasi Sekolah Perencana Indonesia, untuk bisa saling bertukar informasi dan pengetahuan dalam bidang Perencanaan Wilayah Dan Kota.

–             Melakukan Pelatihan untuk meningkatkan SDM Dosen Dan Karyawan dalam bidang PWK dan Bahasa Inggris.

–             Mendorong dosen agar meneruskan jenjang pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

–             Membuat SOP dalam setiap prosedur pekerjaan karyawan.

ANALISIS SWOT

KEKUATAN  (Strength)

 Kekuatan1

KELEMAHAN  (Weaknes)

 Kelemahan 1

PELUANG (Opportunity)

Peluang 2

 

ANCAMAN  (Threat)

Ancaman

MATRIK SWOT

 Dilihat dari hasil analisis internal dan eksternal pada tabel diatas, maka bisa didapatkan total sebagai berikut :

  1. Total Skor Kekuatan    : 3,33
  2. Total Skor Kelemahan : -2,62
  3. Total Skor Peluang      : 3,17
  4. Total Skor Ancaman    : -2,75

  Sedangkan Luasan Matriks berdasarkan total Skor diatas adalah :

 matriks

 Berdasar tabel tersebut di atas, maka diperoleh ranking luas matrik kuadran sebagai berikut :

  1. Ranking ke 1       : pada kuadran I dengan luas matrik 10.56
  2. Ranking ke 2       : pada kuadran IV dengan luas matrik 8.31
  3. Ranking ke 3       : pada kuadran II dengan luas matrik 7.21
  4. Ranking ke 4       : pada kuadran III dengan luas matrik 9.16

 Berdasarkan pada Hasil Rangking luas matrik tersebut di atas, maka penentuan posisi perusahaan dapat digambar sebagai Matrik SWOT yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

matrik2

 Penentuan koordinat dari gambar tersebut adalah sebagai berikut :

Koordinat Analisis Internal    = (Skor total Kekuatan – Skor total Kelemahan) : 2

Koordinat Analisis Internal = (3,33 –2,62)/2 = 0.36

Koordinat Analisis Eksternal  = (Skor total Peluang – Skor total Ancaman) : 2

Koordinat Analisis Eksternal  = (3,17-2,75)/2 = 0,21

Titik koordinat terletak pada (0,36; 0,21)

ANALISIS SETIAP KUADRAN

1. Pada kuadran I ( S O Strategi ) strategi umum yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengambil setiap keunggulan pada kesempatan yang ada

a. Membuat Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar atau dunia kerja sehingga mahasiswa diberikan proses belajar secara berkelanjutan untuk dapat berperan serta dalam memajukan otonomi daerah.

b. Lebih mengenalkan Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ke seluruh Wilayah Jatim dengan bekerja sama dengan Pemerintah Kota atau Kabupaten.

2. Pada kuadran II ( W O Strategi ) perusahaan dapat membuat keunggulan pada kesempatan sebagi acuan untuk memfokuskan kegiatan dengan menghindari kelemahan.

a. Melakukan kerjasama dengan Instansi Pemerintah Kota / Kabupaten dalam Pengabdian kepada masyarakat.

b . Membuat produk inovasi untuk mendukung dan mendorong otonomi daerah guna mewujudkan pembangunan nasional.

3. Pada kuadran III ( W T Strategi ) Meminimumkan segala kelemahan untuk menghadapi setiap ancaman.

a. Meningkatkan ketrampilan atau kualitas SDM yang ada alam menghadapi persaingan yang ketat.

b . Menambah jumlah SDM yang ada dalam memenuhi kebutuhan dalam proses belajar mengajar serta kualitas pelayanan akademik.

4. Pada kuadran IV ( S T Strategi ) Menjadikan setiap kekuatan untuk menghadapi setiap ancaman dengan menciptakan diversifikasi untuk menciptakan peluang

a. Memperbaiki dan membuat differensiasi dalam Proses Belajar mengajar yang berkelanjutan.

b. Membuat Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar (dunia kerja) dalam menghadapi persaingan antar Perguruan Tinggi yang lain.

c. Meningkatkan Promosi untuk mengenalkan Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS.

Berdasarkan gambar tersebut di atas,dalam Hal ini Jurusan PWK ITS berada pada Kuadran I yaitu ( S O Strategi ) strategi umum yang dapat dilakukan oleh Jurusan PWK ITS adalah menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengambil setiap keunggulan pada kesempatan yang ada.

 Dimana Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS Merupakan Jurusan terbaru di ITS yang berdiri pada tahun 2002. Semakin tahun Jurusan PWK ITS berbenah untuk merubah status dari Program Studi menjadi sebuah Jurusan dengan memanfaatkan peluang yang ada, maka Jurusan PWK ITS tumbuh untuk menjadi lebih baik lagi dalam segala bidang.

Setelah mengetahui posisi Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota FTSP ITS berada di Kuadran I, maka Strategi yang dapat dilakukan oleh Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota adalah sebagai berikut :

gambar

 STRATEGI BISNIS UNIT 

IStrategi Ekspansi

Dengan Berkembangnya Otonomi Daerah, maka Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota Berusaha untuk melakukan pembenahan dalam proses belajar mengajar dan berkelanjutan.

Output :

Proses belajar mengajar yang kondusif dan berkelanjutan dengan memperbaiki kurikulum sesuai dengan Pasar (Dunia Kerja) secara nasional dan internasional. Serta lebih memperkenalkan Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ke seluruh Indonesia.

Outcome :

  1. Meningkatkan Sumber daya Dosen Dan Tenaga Kependidikan untuk memasuki era Pasar Bebas.
  2. Membuat Pembaharuan kurikulum setiap 5 tahun sekali yang disesuai dengan pangsa pasar.
  3. Melakukan promosi melalui kegiatan ” kembali ke asal sekolah ”. Disini mahasiswa yang telah menempuh kegiatan belajar mengajar melakukan promosi ke sekolah SMA/SMK mereka dulu dengan memperkenalkan produk yang di hasilkan oleh PWK serta presatasi apa saja yan telah di raih oleh mahasiswa PWK dan juga pengalaman pribadi mahasiswa yang bersangkutan.

Impact Teknologi :

–                   Menerapkan dan mengajarkan ilmu yang diperoleh dosen setelah mereka belajar di Luar Negeri.

–                   Mengkomparisasi sistem pendidikan di Luar negeri yang bisa di terapkan di Indonesia untuk membuat pendidikan lebih baik lagi.

–                   Mempersiapkan sdm karyawan yang lebih unggul untuk menghadapi mahasiswa nasional dan internasional serta menguasai perkembangan teknologi.

–                   Membuat web Jurusan walaupun di ITS sudah ada profil Jurusan PWK. Agar lebih mempermudahkan mahasiswa serta masyarakat untuk mengetahui apa Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota.

Time Line :

Tahun 2014

 II. Strategi Kombinasi

Adanya pesaing yang menawarkan pendidikan dalam bidang PWK baik oleh Instansi pemerintah dan swasta yang lebih menjanjikan baik dalam proses belajar mengajar dan penyediaan kurikulum yang sama atau lebih baik.

Output :

Persaingan yang ketat dalam dunia kerja terhadap lulusan yang dihasilkan oleh Jurusan PWK ITS dengan Universitas yang lain baik Negeri maupun swasta. Semakin kecil peluang mendapatkan kerjasama dengan pemerintah dan Instansi lain apabila tidak mengikuti pengetahuan apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

Outcome :

–          Lebih memacu Perusahaan / Instansi untuk menjadi lebih baik dalam menghadapi perkembangan yang ada.

–          Mengutamakan dan lebih bersifat profesiaonal dalam menjalin hubungan kerjasama dengan Instansi Pemerintah Maupun Swasta.

 Impact Teknologi :

–                   Melakukan studi banding ke universitas Luar Negeri yang dinilai mempunyai kualitas lebih baik dalam bidang PWK.

–                   Meningkatkan Penelitian dan Riset dalam bidang PWK yang bertujuan untuk menciptakan produk atau Inovasi yang dibutuhkan oleh Instansi Pemerintah Dan Swasta dalam mewujudkan pembangunan.

Time Line :

Tahun 2014

 III. Strategi Stabilitas

Dengan Berkembangnya Otonomi Daerah, maka Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota mulai dibutuhkan di Dunia Kerja di seluruh pemerintah Kota Dan Kabupaten. Akan tetapi jumlah SDM dan pengetahuan masyarakat Jurusan PWK masih kecil. Sehingga kurang mampu dalam menyediakan lulusan Sarjana PWK dalam jumlah yang banyak.

Output :

Memperbanyak jumlah SDM yang kompeten di bidang PWK agar dapat menampung lebih banyak lagi mahasiswa baik mahasiswa dalam negeri dan luar negeri. Perbandingan antara jumlah SDM dan Mahasiswa sebanding. Melakukan promosi baik melalui media masa maupun melalui mahasiswa yang turun langsung ke sekolah-sekolah.

Outcome :

  1. Menambah pendapatan yang lebih besar apabila dapat menambah jumlah mahasiswa yang belajar pada Jurusan PWK FTSP ITS.
  2. Dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas tentang bidang Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota sehingga masyarakat bisa bersama-sama ikut mewujudkan pembangunan Daerah dan Kota.

Impact Teknologi :

–                   Dapat membantu Pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang merata di seluruh kota dan kabupaten dengan adanya kerjasama dengan Instansi Pemerintah.

–                   Membuat peta Zonasi yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan dalam pembangunan suatu daerah dan kota untuk mengurangi pemekaran wilayah.

–                   Lebih mempromosikan tentang Jurusan PWK melalui internet, baik pengetahuan tentang PWK maupun hasil inovasi yang diciptakan oleh PWK.

 Time Line :

Tahun 2014

IV. Strategi Penciutan

Keterbatasan dalam SDM di bidang PWK menyebabkan banyak mahasiswa yang tidak tertampung untuk menempuh pendidikan di Jurusan PWK ITS, sehingga banyak mahasiswa yang mencari opsi universitas yang sama atau sebanding dengan Jurusan PWK ITS dalam mencapai cita-citanya.

Output :

Lebih selektif dalam penerimaan mahasiswa karena adanya keterbatasan SDM sehingga Kuota penerimaan mahasiswa juga akan dibatasi sebanding dengan jumlah SDM yang ada.

Outcome :

–          Mendapatkan mahasisswa yang berkulitas baik dan diatas rata-rata.

–          Memudahkan dosen dalam mengajar mahasiswa dengan metode belajar mandiri.

 Impact Teknologi :

–                   Mengadakan beberapa jalur penerimaan mahasiswa secara online.

–          Mengunakan media online dalam pembelajaran dengan metode belajar mandiri, dikarenakan yang diterima di Jurusan PWK merupakan mahasiswa yang terbaik.

Time Line :

Tahun 2014

Sedangkan Program-Program Yang akan dilakukan Jurusan PWK  adalah :

Program PWK

 

Uraian Dari Program Yang Telah Disusun oleh Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS adalah :

 

program 2

Evaluasi dan Pengawasan (Controlling) Strategi Organisasi

Seyogyanya, program kerja yang dibuat haruslah memiliki keterkaitan dengan visi dan misi organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Hal tersebut diperlukan agar memudahkan organisasi untuk mengevaluasi dan mengkontrol program kerja sehingga menjadi lebih terarah dalam mencapai tujuan organisasi yang diharapkan.

Dalam tabel di bawah ini dapat dilihat bahwa program kerja dibuat harus mempunyai ukuran hasil (lag indicator). Ukuran hasil (lag indicator) merupakan indikator apa saja yang digunakan untuk mengukur apakah suatu program kerja dikatakan telah berhasil atau mencapai tujuan yang diharapkan oleh organisasi.

Evaluasi

 

 

 

 

 

 

 

 

Tugas Besar Managemen Strategic

BAB I

JATIDIRI, SEJARAH PENDIRIAN, VISI, MISI, SASARAN DAN TUJUAN TAHUN 2008

1.1 Rumusan Jatidiri Dan Sejarah Pendirian Program Studi

Nama dan Alamat Program Studi :

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (Prodi PWK)

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111

Telp : (031) 5922425, Fax : (031) 5922425

E-mail : urplan@its.ac.id,

Website : http://www.pwk.its.ac.id

Prodi Perencanaan Wilayah Dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya berada pada lingkup Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Program ini dibuka pada tahun akademik 2002/2003, dengan daya tampung sebanyak 60 mahasiswa tiap tahun. Dasar hukum pendirian program studi ini adalah sebagai berikut:

–    Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

–     Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi.

–     Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum.

Pada tanggal 25 Agustus 2001 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memberikan ijin penyelenggaraan Program Studi Perencanan Wilayah dan Kota ITS melalui Surat Dirjen Dikti Nomor: 2825/D/T/2001 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Program-program Studi Jenjang Program Sarjana (S-1) pada Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Berdasarkan surat ijin tersebut selanjutnya Prodi PWK ITS mulai menerima mahasiswa baru pada tahun akademik 2002/2003 melalui jalur SPMB. Seiring dengan berjalannya waktu Program Studi PWK ITS menerima mahasiswa baru dari program IPA dan IPS melalui beberapa skenario jalur penerimaan, diantaranya adalah :

  1. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 yaitu seleksi nasional berdasarkan prestasi akademik siswa (rapor dan prestasi lainnya) dan biaya ditanggung pemerintah.
  2. Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2013 yaitu seleksi berdasarkan hasil tes tertulis dan atau ketrampilan serta biaya menjadi beban peserta.
  3. Seleksi Mandiri PTN yaitu mekanisme seleksi sepenuhnya diserahkan kepada setiap PTN, otomatis biaya dibebankan kepada peserta.

1.2 Rumusan Visi Program Studi yang Konsisten dengan Visi Lembaga

Institusi yang berintegritas dan berkompetensi tinggi dalam bidang perencanaan wilayah dan kota secara berkelanjutan dalam rangka mendukung otonomi daerah.

1.3 Rumusan Misi Program Studi yang diturunkan dari Misi Lembaga

Perkembangan ilmu dan teknologi telah mendorong institusi pendidikan untuk senantiasa ikut berkembang mengikuti perubahan yang terjadi dengan tetap mempertahankan ciri khas keilmuannya.  Berdasarkan hal tersebut, misi Prodi PWK :

  1. Membangun sumberdaya manusia yang berintegritas dan berkompetensi tinggi.
  2. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang PWK.
  3. Menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang berkelanjutan.
  4. Mendukung pelaksanaan otonomi daerah melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat

1.4 Rumusan Tujuan dan Sasaran Program Studi yang relevan dengan Misi

Secara umum sesuai dengan tujuan pendidikan jenjang S-1 di ITS yaitu untuk menyiapkan peserta didik menjadi sarjana teknik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, memiliki integritas kepribadian yang tinggi, terbuka dan tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu, teknologi dan masalah yang dihadapi masyarakat khususnya yang berkaitan dengan bidang keahliannya.

Secara umum lulusan Program Studi PWK memiliki kualifikasi sebagai berikut:

  1. Memiliki integritas kepribadian yang tinggi sebagai sarjana ilmu teknik.
  2. Mampu mengembangkan kepemimpian yang efektif dan menumbuhkan rasa etika professional.
  3. Memiliki kemampuan bekerja atau meneruskan pendidikan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.
  4.  Mampu menghadapi situasi-situasi baru dalam profesinya sebagai sarjana teknik berdasarkan prinsip-prinsip fundamental secara mandiri, disertai percaya diri dan pertimbangan yang mantap.
  5. Mempunyai motivasi untuk mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan secara intelektual, sosial dan kultural.
  6. Mampu menyelesaikan masalah dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar ilmu teknik dan pemikiran analitis yang tertib sewaktu merumuskan masalah, menyederhanakan masalah tanpa kehilangan sifat kekhususannya.
  7. Mampu berperan serta dalam mendorong pembangunan di daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.

Secara khusus, lulusan Program Studi PWK adalah:

  1. Memiliki kemampuan bekerja dalam bidang keilmuan perencanaan, khususnya yang berkaitan dengan visi dan misi ITS, yaitu bidang keilmuan yang diarahkan kepada perencanaan tata ruang kawasan pesisir dan lautan.
  2. Mampu mengaplikasikan ilmu teknik perencanaan yang dimilikinya dan mampu meneruskan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  1. Mempunyai motivasi untuk mengikuti perkembangan teknologi, menerapkan prinsip-prinsip teknik perencanaan melalui pemikiran yang kritis dan analitis secara intelektual, sosial dan kultural.

1.5 Analisa SWOT Bidang Jatidiri, Integritas, Visi, Misi, Sasaran Dan Tujuan

Visi dari Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS adalah Institusi yang berintegritas dan berkompetensi tinggi dalam bidang perencanaan wilayah dan kota secara berkelanjutan dalam rangka mendukung otonomi daerah.

Analisa dalam lingkup Internal :

  1. Kekuatan :
    1. Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS merupakan Program Studi Negeri kedua di Jawa Timur setelah UNIBRAW.
    2. Posisi Geografis Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS yang terletak di Indonesia bagian timur berpotensi untuk melakukan jejaring yang masih banyak belum tersentuh.
    3. Adanya perkembangan tentang otonomi daerah menyebabkan lulusan PWK makin dibutuhkan.
  1. Kelemahan :
    1. Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS belum begitu dikenal oleh stakeholders, baik   kalangan pemerintahan maupun swasta dan oleh kalangan pelajar sendiri.
    2. Ada anggapan bahwa studi di PWK ruang lingkup pekerjaannya sempit, hanya mengandalkan proyek pemerintah saja.

Analisa dalam lingkup Eksternal :

  1. Peluang :
    1. Perkembangan manajemen kepemerintahan (utamanya) karena adanya otonomi daerah yang membuat kebutuhan sarana dan prasarana pemenuhan kebutuhan masyarakat makin membutuhkan SDM dibidang perencanaan ketata ruangan.
    2. Potensi membuat jejaring dengan pemanfaatan ruang khususnya di kawasan Indonesia Timur yang cukup tinggi.
  1. Ancaman :
    1. Penurunan Kualitas dan Kinerja Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota.

Sikap yang diambil dalam mengatasi peluang dan ancaman adalah :

– Lebih keras mengenalkan Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS kepada masyarakat luas kususnya wilayah Jawa Timur.

–   Membuat jejaring atau kerja sama dengan pemerintah-pemerintah Daerah di Indonesia dan Konsultan-Konsultan Perencanaan.

–   Memperbaiki Kualitas SDM Dosen Karyawan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

–   Memperbaiki kinerja dan menata administrasi secara baik dan sesuai dengan prosedur.

Teknik – teknik yang dilakukan adalah :

–   Melakukan promosi-promosi ke Sekolah menengah umum di surabaya dan di daerah-daerah di Jawa Timur.

–  Mengadakan seminar maupun workshop yang mengundang instansi pemerintah dan juga swasta dalam mengenalkan tentang Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS.

–   Melaksanakan Pengabdian kepada masyarakat dalam bidang Perencanaan Wilayah Dan Kota dalam bentuk pemberian penyuluhan pada Instansi Pemerintahan maupun melaksanakan riset dalam bidang Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS.

– Menjadi anggota organisasi Sekolah Perencana Indonesia, untuk bisa saling bertukar informasi dan pengetahuan dalam bidang Perencanaan Wilayah Dan Kota.

–  Melakukan Pelatihan untuk meningkatkan SDM Dosen Dan Karyawan.

–  Mendorong dosen agar meneruskan jenjang pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

–   Membuat SOP dalam setiap prosedur pekerjaan karyawan.

BAB II

STRATEGI DAN TAKTIK PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA ITS    

2.1 Strategi Dalam Kemahasiswaan

1. Strategi Membuat Sistem rekruitment dan Seleksi Calon Mahasiswa secara Selekktif

– Sistem Rekrutmen

Sesuai dengan sistem dan aturan yang berlaku di ITS yaitu sistem penerimaan mahasiswa melalui jalur SPMB dan PMDK. Untuk penerimaan mahasiswa baru dengan jalur PMDK dilakukan 4 cara :

  1. PMDK Prestasi

Yaitu penerimaan mahasiswa melalui seleksi berdasarkan prestasi nasional dibidang tertentu misalnya seni, karya ilmiah atau olahraga.

  1. PMDK Beasiswa

Yaitu penerimaan mahasiswa melalui seleksi berdasarkan prestasi siswa di sekolah (SMA) dan ber-ekonomi lemah.

  1. PMDK Reguler

Yaitu penerimaan mahasiswa melalui seleksi berdasarkan prestasi di sekolah (SMA).

  1. PMDK Kemitraan

Yaitu penerimaan mahasiswa melalui seleksi berdasarkan kerjasama antara ITS dengan BUMN dan PEMDA.

Sedangkan untuk jalur test nasional Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dilaksanakan secara nasional dan dilakukan setiap menjelang tahun ajaran baru sekitar bulan Juli dan Agustus yang sudah terprogram.

Penerimaan mahasiswa baru Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota pada awalnya hanya melalui ujian SPMB tahun 2002 dengan daya tampung yang direncanakan sebesar 40 mahasiswa setiap tahun. Mulai tahun 2003 dilakukan penerimaan mahasiswa baru melalui jalur PMDK Reguler yang dilaksanakan hingga tahun 2004. Pada tahun 2005 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota tidak lagi menerima mahasiswa baru melalui jalur PMDK Reguler, dan sebagai gantinya diadakan penerimaan melalui jalur PMDK Kemitraan. Pada tahun 2007 selain penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SPMB dan PMDK Kemitraan, juga dilakukan penerimaan melalui jalur PMDK Berbeasiswa dan PMDK Mandiri. Jumlah mahasiswa yang terdaftar pada tahun akademik 2007/2008 sebesar 264 mahasiswa.

1. Strategi Peningkatan Prestasi akademik

Total mahasiswa aktif dari tahun 2006 hingga 2007 sebanyak  237 mahasiswa.   Rerata jumlah lulusan per tahun 19 orang, IPK rerata adalah 3,27 dan lama studi 4,5 tahun dan persentase mahasiswa yang lulus tepat waktu (4 tahun) = 17,9%, lulus dengan waktu empat sampai lima tahun = 69,2%, sedangkan mahasiswa yang lulus >5 tahun = 12,8% .

  1. 2.       Strategi Keterlibatan Mahasiswa dalam Bebagai Komisi yang Relevan.

Jumlah mahasiswa yang berminat pada bidang karya ilmiah selama 3 tahun terakhir meliputi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres), Karya Tulis Remaja dan Program Karya Tulis Mahasiswa. Mahasiswa Prodi PWK cukup antusias untuk mengikuti berbagai program penulisan karya tulis mahasiswa.

– Taktik Dalam Kemahasiswaan

Usaha untuk menaikkan jumlah peminat baik dari segi kualitas dan kuantitas calon mahasiswa adalah dengan :

  • Menyebarkan leafleat Prodi PWK ke SMU se Jawa Timur
  • Sosialisasi Prodi PWK ke SMU se Jawa Timur. Baik dengan cara mendatangi ke SMU-SMU maupun mengundang pelajar SMU untuk mengunjungi Kampus.
  • Pada saat penyelenggaraan pelatihan/training dari luar (instansi pemerintah/swasta), selalu diinformasikan kepada peserta dan dibagikan leafleat tentang Prodi PWK.
  • Mengikuti acara pameran ilmiah dengan membuat anjungan Prodi PWK
  • Mengadakan “road show” dan pameran Prodi PWK ke beberapa SMU di propinsi Jawa Timur.
  • Pada tahun 2002 – 2008 Prodi PWK membatasi penerimaan mahasiswa setiap kelasnya yaitu sebesar 60 per kelas dikarenakan Prodi PWK belum mempunyai kelas dan gedung tersendiri untuk menyenggarakan perkuliahan. Selain itu tenaga kependidikan masih belum memadai untuk mengajar.
  • Untuk meningkatkan prestasi mahasiswa dalam bidang akademik, maka dalam pelaksanaan mata Kuliah Tugas Akhir Prodi PWK menyusun pedoman serta tata cara pelaksanaan Evaluasi yaitu diadakannya evaluasi selama 3 kali dan terjadwal agar mahasiswa dapat disiplin dalam menyelesaikan Tugas Akhirnya. Sehingga meminimalkan mahasiswa yang DO dan perpanjangan waktu tempuh studi. Selain itu adanya klinik untuk membantu pertanyaan serta tugas kuliah bagi mahasiswa yang kesulitan dalam menyelesaikan tugas Perkuliahan dan Tugas Akhirnya.

1.2   DOSEN DAN TENAGA PENDUKUNG

1. Strategi Sistem Rekruitmen dan Seleksi Dosen dan Tenaga Pendukung

            Dalam penambahan tenaga baik staf dosen maupun tenaga pendukung akan diseleksi berdasarkan kebutuhan pengelolaan program studi. Untuk penambahan tenaga dosen diusulkan berdasarkan :

  1. Rasio jumlah dosen dengan mahasiswa secara keseluruhan
  2. Kebutuhan kelompok bidang minat
  3. Informasi dari Fakuktas/Institut mengenai adanya kesempatan terhadap Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota untuk mendapatkan jatah staf dosen baru.

Sedangkan untuk tenaga pendukung berdasarkan tingkat kebutuhan dan juga informasi dari tingkat fakultas/institut tentang penerimaan staf baru.

  1. 1.  Strategi Pengelolaan Dosen dan Tenaga Pendukung.

Tenaga Akademik

Tenaga akademik Program Studi (S-1) Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP ITS terdiri dari tenaga pengajar tetap dan tenaga pengajar tidak tetap. Pada awal pendiriannya, seluruh tenaga pengajar tetap berasal dari tenaga pengajar dari jurusan Arsitektur FTSP ITS yang ditransfer ke Program Studi (S-1) Perencanaan Wilayah dan Kota, sedangkan tenaga pengajar tidak tetap terdiri atas tenaga pengajar dari institusi lainnya, yang terdiri dari tenaga pengajar dari ITS, tenaga pengajar dari institusi pendidikan lain di luar ITS, praktisi di pemerintahan, praktisi di private sector, dan dari organisasi profesi.

Tenaga Administrasi

Pada Bagian administrasi yang mendukung kegiatan pengelolaan Program Studi (S-1) Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP ITS yang berstatus PNS adalah sebanyak 2 0rang dan 3 orang berstatus Honorer pada tahun 2004, sedangkan pada tahun 2014 Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota mempunyai tenaga Administrasi dan tenaga penunjang akademik sebanyak 12 orang dengan status 4 PNS, 7 berstatus Honorer dan 1 sebagai Harian Lepas.

  1. 2. Strategi Peningkatan Karya akademik dosen (penelitian dan karya lainnya)

Karya akademik dosen dalam 3 (tiga) tahun terakhir dapat dikelompokan menjadi :

  • Penelitian
  • Makalah yang diterbitkan di jurnal PWK
  • Prosiding pada acara seminar Nasional maupun Internasional

–                Taktik Dalam Tenaga Dosen Dan Pendukung

               Sebagai proses keberlanjutan pengadaan dan pemanfaatan dosen, Prodi PWK berusaha meningkatkan kemampuan dengan memberikan berbagai kesempatan dalam

mengaplikasikan bidang ilmu yang diminati bagi kepentingan masyarakat maupun civitas akademika, melalui program-program sebagai berikut  :

  1. Mendorong dosen agar berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan seminar baik nasional maupun internasional.
  2. Meningkatkan kerjasama antar anggota Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI), anggota Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) dengan stakesholders, baik pemerintah maupun swasta mengenai kurikulum dan bidang keahlian agar didapatkan lulusan yang kompeten dengan ciri masing-masing.
  3. Memotivasi dosen untuk mengikuti berbagai hibah penelitian pada tingkat institutusi maupun nasional (DIKTI).
  4. Melakukan program bersama-sama institusi dan lembaga pemerintahan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat, seperti penganggulangan bencana alam banjir dan longsor.
  5. Meningkatan Kemampuan Tenaga Pendukung dalam mengikutsertakan dalam Pelatihan sesuai dengan bidangnya.
  6. Mendorong Tenaga Dosen Dan Pendukung untuk melanjutkan studi lanjut baik dalam Negeri maupun Luar Negeri. Dengan memanfaatkan Beasiswa yang ada.

2.3  KURIKULUM

1.1  Strategi Kesesuaian Kurikulum dengan Visi, Misi, Sasaran, dan Tujuan

Kurikulum merupakan komponen yang sangat penting bagi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, karena dengan kurikulum program studi tersebut berusaha untuk mencapai visi dan misinya. Kurikulum bisa juga dipakai sebagai instrumen untuk melihat sasaran dan tujuan dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Kurikulum Program Studi S1 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota disusun sesuai dengan visi dan misinya untuk menghasilkan lulusan di bidang Perencanaan Wilayah dan Kota yang berbasis kompetensi dan didukung dengan penguasaan materi yang kuat dan memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar nasional dan internasional.

Kurikulum Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota memiliki mata kuliah yang membekali mahasiswa dengan kemampuan aplikasi bidang perencanaan wilayah dan kota sebagai modal untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional, yang ditunjang dengan mata kuliah untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya seperti mata kuliah managemen kota, Perencanaan Pariwisata. Kurikulum disusun dan dilaksanakan dalam bentuk

perkuliahan, studio dan kegiatan yang berhubungan langsung dengan dunia kerja seperti Kerja Praktek (Magang, CoOp) dan Kuliah Tamu, sehingga diharapkan mahasiswa terbiasa dengan lingkungan kerja dan berinteraksi dengan dunia kerja sejak dini.

Untuk mencapai sasaran dan tujuan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota , kurikulum disusun untuk mewadahi 2 (dua) bidang minat meliputi Perencanaan Wilayah dan Perencanaan Kota.

Tugas Mata kuliah maupun studio ditunjang dengan sarana dan prasarana yang berbasis Teknologi Informasi sehingga menciptakan atmosfer akademik yang kondusif, sekaligus membiasakan mahasiswa bekerja di lingkungan yang berbasis komputasi.

2.2 Strategi Relevansi Kurikulum dengan Tuntutan dan Kebutuhan Stakeholders

Kurikulum Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dimonitor, dievaluasi dan dikembangkan, dimana prosesnya didasarkan pada tuntutan dan kebutuhan stakeholders dan kapabilitas yang dimiliki oleh Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (baik sumber daya manusia dan prasarananya). Kegiatan yang berhubungan dengan kurikulum merupakan bagian dari Program Pengembangan Jurusan (PPJ).

Untuk mengetahui apakah kurikulum yang disusun dapat mencetak lulusan seperti yang diharapkan oleh stakeholders maka diperlukan tracer study, dimana langkah ini telah dimulai di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, melalui pembangunan database alumni yang berisikan tentang keberadaan alumni di masyarakat dan departemen. Cara ini diharapkan dapat membantu dalam mengetahui lama tunggu mencari kerja, kesesuaian pekerjaan dengan bidang Perencanaan Wilayah dan Kota. Sehingga informasi dari data-base yang baik dapat digunakan untuk menyusun strategi relevansi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.

Agar lulusan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota memiliki jiwa profesionalisme yang tinggi dan mampu beradaptasi dengan cepat pada setiap kondisi lingkungan kerja serta beretika tinggi, maka pada kurikulum 2004-2009 dilengkapi dengan materi-materi profesionalisme, kehidupan bermasyarakat, team work, leadership, interpersonal dan communication skill. Mata kuliah dan kegiatan mahasiswa yang menunjang kompetensi di atas, misalnya : kewirausahaan, kerja praktek (magang, coop, dst), kuliah tamu, kuliah lapangan, study excursie, Pekan Ilmiah Mahasiswa ITS (PIMITS) dan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM), mulai dari tingkat dasar sampai tingkat pemandu. Karena itu Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota mendorong dan mendukung mahasiswa agar lebih proaktif dalam kegiatan mahasiswa di lingkungan program studi, lembaga, regional dan nasional.

Taktik Dalam Bidang Kurikulum

  1. Membuat struktur dan isi kurikulum yang jelas agar bisa meningkatkan kompetensi mahasiswa.
  2. Membuat Integrasi Materi Pembelajaran (Intra antar Disiplin Ilmu) agar mahasiswa mampu mengaplikasikan Ilmu Perencanaan Wilayah Dan Kota Dalam Dunia Kerja.
  3. Membuat Kurikulum Lokal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdekat dan kepentingan internal lembaga.
  4. Membuat Mata Kuliah Pilihan agar mahasiswa flesibel dalam menentukan sendiri kompetensinya sesuai dengan kebutuhan dan harapannya.

 

2.4 Strategi Dalam Sarana Dan Prasarana

1. Strategi Pengelolaan, Pemanfaatan, Dan Pemeliharaan Sarana Dan Prasarana

       Pengelolaan, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana – prasarana di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dilakukan secara terkoordinir oleh masing–masing penanggung jawab di bawah wewenang Ketua Program Studi.

               Prasarana dan sarana : ruang perkuliahan, ruang dosen, ruang sidang di koordinasi oleh kepala seksi pengajaran. Pengelolaan dan pemanfaatan ruang kuliah dilakukan menurut jadwal perkuliahan setiap dosen, pemeliharaan dalam hal kebersihan dilakukan oleh seorang karyawan. Ruang sidang di gunakan untuk rapat dosen, rapat karyawan. Pemeliharaan prasarana dan sarana di lakukan secara berkala dengan anggaran rutin SPP, maupun SPI.

  1. 2.  Strategi Keberlanjutan Pengadaan, Pemeliharaan dan Pemanfaatannya.

Keberlanjutan pengadaan di lakukan dengan  anggaran rutin SPP & SPI oleh internal Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota maupun di usulkan ke Fakultas dan Institut.  Pengadaan sarana dan prasarana di usulkan sesuai skala prioritas kebutuhan yang di sesuaikan dengan kemampuan anggaran Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.  Sebagian pengadaan buku ruang baca, sarana pembelajaran seperti komputer, LCD, OHP, Laptop didanai dengan anggaran SPI. Semua pengguna sarana termasuk dosen, karyawan dan mahasiswa bila menggunakan sarana dan prasarana tersebut harus bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan penggunaannya. Biaya pemeliharaan sarana dan prasarana di anggarkan melalui dana operasional rutin Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, yaitu SPP mahasiswa dan Sumbangan Pengembangan Institut (SPI) mahasiswa setiap tahun.

Taktik Dalam Sarana Dan Prasarana

  1. Menciptakan Suasana Perkuliahan yang aman dan nyaman serta sehat.
  2. Menyediakan alat-alat penunjang dalam keberlangsungan proses belajar mengajar.
  3. Menyediakan Kesesuaian ruang dan alat dalam proses belajar mengajar serta ruang dalam penunjang pembelajaran seperti Laboratorium, perpustakaan, Ruang Studio dll.
  4. Memcari kerjasama dengan pemerintah dan swasta dalam pemenuhan dan perawatan sarana dan prasarana.
  5. Memanfaatkan Dana Hibah yang ada dalam pengadaan sarana dan prasarana.

 

BAB III

ANALISIS SWOT PROGRAM STUDI

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA ITS

 

3.1 FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL  

FAKTOR INTERNAL

Operasional

+ menciptakan Proses belajar mengajar yang kondusif dan berkelanjutan di bidang PWK

+ memberikan evaluasi untuk menentukan kualitas mahasiswa (1 semester diadakan secara 2 kali )

+ Kurikulum sesuai dengan kebutuhan pasar (dunia Kerja)

+ Proses penerimaan Mahasiswa dilakukan dengan selektif

– jumlah SDM yang kurang memadai

Marketing / Promosi

+ Promosi ke SMU-SMU di Jatim

+ Membuat jejaring atau kerjasama dengan pemerintah Dan Swasta

– Masayarakat belum banyak mengenal Jurusan PWK

– Lingkup Pekerjaan Kurang Luas

Keuangan

+ Ratio Keuangan Sehat

+ Memiliki System Informasi yang terintegrasi

– sumber pendanaan masih tergantung sama pemerintah

– Laporan keuangan masih menjadi satu dengan pusat

Personalia

+ Memiliki SDM yang sangat berkompeten di bidang PWK

– Masih Ada SDM yang belum menguasai IT

Litbang

+ Riset Dosen dan Mahasiswa sudah hampir lebih dari cukup

+ Membuat Penelitian dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat

– kurang terlibatnya mahasiswa dalam penelitian dosen

Budaya Perusahaan

+ Membuat dan menciptakan inovasi / produk dalam bidang PWK

– Budaya Kerja Masih Lemah

Struktur Organisasi

+ SOP dan Struktur Organisasi sudah jelas

– Penerapan SOP Masih lemah

Manajemen

– Mengikuti Manajemen Pusat

Kuesioner Internal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Kekuatan (Strength)

Strenght

Kuesioner Internal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Kelemahan (Weaknes)

weaknes

Kuesioner Internal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Peluang (Opportunity)

opportunity2

 

Kuesioner Internal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Ancaman (Threat)

Threat

3.2 ANALISIS SWOT

ANALISIS MATRIK SWOT

Total Skor Kekuatan  : 3,28

Total Skor Kelemahan : 2,62

Total Skor Peluang : 3,17

Total Skor Ancaman :  – 2,75

swot

 

Koordinat Analisis Internal  = (Total Skor Kekuatan – Total Skor Kelemahan)/2

Koordinat Analisis Internal = 0.33

Koordinat Analisis Internal  = (Total Skor Peluang – Total Skor Ancaman)/2

Koordinat Analisis Internal = 0.21

Jadi Titik Koordinatnya adalah (0.33;0.21)

DIAGRAM SWOT

matrik2

Dalam Hal ini Prodi PWK ITS berada pada Kuadran I yaitu ( S O Strategi ) strategi umum yang dapat dilakukan oleh Prodi PWK ITS adalah menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengambil setiap keunggulan pada kesempatan yang ada.

Dimana Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota ITS Merupakan Prodi terbaru di ITS yang berdiri pada tahun 2002. Semakin tahun Prodi PWK ITS berbenah untuk merubah status dari Program Studi menjadi sebuah Jurusan dengan memanfaatkan peluang yang ada maka Prodi PWK ITS tumbuh untuk menjadi lebih baik lagi dalam segala bidang.

BAB IV

KESIMPULAN 

gambar

I. Strategi Stabilitas

Dengan Berkembangnya Otonomi Daerah, maka Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota mulai dibutuhkan di Dunia Kerja di seluruh pemerintah Kota Dan Kabupaten. Akan tetapi jumlah SDM dan pengetahuan masyarakat Jurusan PWK masih kecil. Sehingga kurang mampu dalam menyediakan lulusan Sarjana PWK dalam jumlah yang banyak.

Output :

Memperbanyak jumlah SDM yang kompeten di bidang PWK agar dapat menampung lebih banyak lagi mahasiswa baik mahasiswa dalam negeri dan luar negeri. Perbandingan antara jumlah SDM dan Mahasiswa sebanding. Melakukan promosi baik melalui media masa maupun melalui mahasiswa yang turun langsung ke sekolah-sekolah.

Outcome :

1. Menambah pendapatan yang lebih besar apabila dapat menambah jumlah mahasiswa yang belajar pada Jurusan PWK FTSP ITS.

2. Dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas tentang bidang Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota sehingga masyarakat bisa bersama-sama ikut mewujudkan pembangunan Daerah dan Kota.

Impact Teknologi :

–                   Dapat membantu Pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang merata di seluruh kota dan kabupaten dengan adanya kerjasama dengan Instansi Pemerintah.

–                   Membuat peta Zonasi yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan dalam pembangunan suatu daerah dan kota untuk mengurangi pemekaran wilayah.

–                   Lebih mempromosikan tentang Jurusan PWK melalui internet, baik pengetahuan tentang PWK maupun hasil inovasi yang diciptakan oleh PWK.

Time Line :

Tahun 2014

 

II. Strategi Ekspansi

Dengan Berkembangnya Otonomi Daerah, maka Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota Berusaha untuk melakukan pembenahan dalam proses belajar mengajar dan berkelanjutan.

Output :

Proses belajar mengajar yang kondusif dan berkelanjutan dengan memperbaiki kurikulum sesuai dengan Pasar (Dunia Kerja) secara nasional dan internasional. Serta lebih memperkenalkan Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota ke seluruh Indonesia.

Outcome :

  1. Meningkatkan Sumber daya Dosen Dan Tenaga Kependidikan untuk memasuki era Pasar Bebas.
  2. Membuat Pembaharuan kurikulum setiap 5 tahun sekali yang disesuai dengan pangsa pasar.
  3. Melakukan promosi melalui kegiatan ” kembali ke asal sekolah ”. Disini mahasiswa yang telah menempuh kegiatan belajar mengajar melakukan promosi ke sekolah SMA/SMK mereka dulu dengan memperkenalkan produk yang di hasilkan oleh PWK serta presatasi apa saja yan telah di raih oleh mahasiswa PWK dan juga pengalaman pribadi mahasiswa yang bersangkutan.

Impact Teknologi :

–                   Menerapkan dan mengajarkan ilmu yang diperoleh dosen setelah mereka belajar di Luar Negeri.

–                   Mengkomparisasi sistem pendidikan di Luar negeri yang bisa di terapkan di Indonesia untuk membuat pendidikan lebih baik lagi.

–                   Mempersiapkan sdm karyawan yang lebih unggul untuk menghadapi mahasiswa nasional dan internasional serta menguasai perkembangan teknologi.

–                   Membuat web Jurusan walaupun di ITS sudah ada profil Jurusan PWK. Agar lebih mempermudahkan mahasiswa serta masyarakat untuk mengetahui apa Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota.

Time Line :

Tahun 2014

 

III. Strategi Kombinasi

Adanya pesaing yang menawarkan pendidikan dalam bidang PWK baik oleh Instansi pemerintah dan swasta yang lebih menjanjikan baik dalam proses belajar mengajar dan penyediaan kurikulum yang sama atau lebih baik.

Output :

Persaingan yang ketat dalam dunia kerja terhadap lulusan yang dihasilkan oleh Jurusan PWK ITS dengan Universitas yang lain baik Negeri maupun swasta. Semakin kecil peluang mendapatkan kerjasama dengan pemerintah dan Instansi lain apabila tidak mengikuti pengetahuan apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

Outcome :

–          Lebih memacu Perusahaan / Instansi untuk menjadi lebih baik dalam menghadapi perkembangan yang ada.

–          Mengutamakan dan lebih bersifat profesiaonal dalam menjalin hubungan kerjasama dengan Instansi Pemerintah Maupun Swasta.

 

Impact Teknologi :

–                   Melakukan studi banding ke universitas Luar Negeri yang dinilai mempunyai kualitas lebih baik dalam bidang PWK.

–                   Meningkatkan Penelitian dan Riset dalam bidang PWK yang bertujuan untuk menciptakan produk atau Inovasi yang dibutuhkan oleh Instansi Pemerintah Dan Swasta dalam mewujudkan pembangunan.

Time Line :

Tahun 2014

 

 IV. Strategi Penciutan

Keterbatasan dalam SDM di bidang PWK menyebabkan banyak mahasiswa yang tidak tertampung untuk menempuh pendidikan di Jurusan PWK ITS, sehingga banyak mahasiswa yang mencari opsi universitas yang sama atau sebanding dengan Jurusan PWK ITS dalam mencapai cita-citanya.

 Output :

Lebih selektif dalam penerimaan mahasiswa karena adanya keterbatasan SDM sehingga Kuota penerimaan mahasiswa juga akan dibatasi sebanding dengan jumlah SDM yang ada.

Outcome :

–          Mendapatkan mahasisswa yang berkulitas baik dan diatas rata-rata.

–          Memudahkan dosen dalam mengajar mahasiswa dengan metode belajar mandiri.

 Impact Teknologi :

–                   Mengadakan beberapa jalur penerimaan mahasiswa secara online.

–                   Mengunakan media online dalam pembelajaran dengan metode belajar mandiri, dikarenakan yang diterima di Jurusan PWK merupakan mahasiswa yang terbaik.

Time Line :

Tahun 2014

 PROGRAM PENGEMBANGAN PRODI PWK – ITS

 Tenaga Pengajar

Keberadaan jumlah tenaga pengajar seperti yang telah dijelaskan di atas, ternyata masih dirasakan belum optimal, baik dari jumlah dan bidang keahliannya. Jumlah tenaga pengajar bisa dikatakan belum memenuhi kebutuhan. Hal ini dirasakan apabila terdapat kegiatan studio yang membutuhkan tim pengajar lebih dari satu. Tahap perkuliahan telah memasuki tahap akhir, sehingga mulai dibutuhkan dosen-dosen pembimbing mahasiswa tingkat akhir. Hal ini dirasakan masih kurang, terutama di bidang keahlian tertentu, terutama transportasi.

Berkaitan dengan permasalahan di atas, solusinya memang menambah jumlah tenaga pengajar di bidang yang dibutuhkan. Akan tetapi, hal tersebut sangat ditentukan oleh kebijakan di tingkat institut. Langkah awal yang dapat diupayakan mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan bagi tenaga pengajar untuk memperoleh pengayaan di bidang keahlian yang dibutuhkan Prodi PWK. Di samping itu juga diperlukan pengembangan metode pembelajaran, misalnya dengan menyusun diktat dan modul perkuliahan sehingga dapat membantu proses pembelajaran.

KPI dosen dan Mahasiswa :

Tahun 2011 jumlah Mahasiswa 69 orang dengan jumlah dosen 16 orang

Tahun 2012 jumlah Mahasiswa 79 orang dengan jumlah dosen 18 orang

Tahun 2013 jumlah Mahasiswa 90 orang dengan jumlah dosen 23 orang

Dengan adanya data tersebut diatas kenaikan mahasiswa rata-rata 13 % pertahun. Dan jumlah dosen tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa dikarenakan perbandingan dosen dan mahasiswa sebesar 1 : 20.

 

Peralatan

Peralatan yang tersedia di Prodi PWK sudah mencukupi. Hanya saja pemanfaatan peralatan tersebut belum optimal. Hal ini dikarenakan belum adanya mekanisme yang baku yang mengatur pemanfaatan peralatan tersebut. Sehingga seringkali ditemui peralatan yang tidak terpakai, atau peralatan yang rusak, tetapi masih menumpuk di gudang dan belum diperbaiki.

 

Organisasi dan kelembagaan

Hal ini berkaitan dengan masih kurangnya sumber daya manusia yang dimiliki, terutama tenaga karyawan. Disamping itu, sistem prosedur operasional di program ini belum dapat berjalan dengan baik. Misalnya saja untuk pengelolaan Lab. Komputer, Perpustakaan, studiodan sistem administrasinya kurang dapat berjalan dengan optimal.

Kondisi-kondisi di atas jika dibiarkan tentunya akan mengganggu kinerja dari Prodi PWK. Dalam perspektif organisasi dan klembagaan ini, potensi dan permasalahan seperti yang diuraikan di atas disebabkan oleh :

  1. Masih belum lengkapnya komponen-komponen organisasi yang dibutuhkan, sehingga pada pelaksanaannya masing-masing komponen saling tumpang tindih.
  2. Belum optimalnya fungsi dan peranan karyawan dalam mendukung kinerja program studi ini
  3. Belum adanya sistem dan prosedur yang baku dalam mengelola program studi, baik dari sisi administrasi, sistem pengelolaan peralatan dan manajemen pelaksanaan akademis

Sumberdaya

  1. Menurunya minat calon mahasiswa untuk memilih Prodi PWK
  2. Masih kurangnya tenaga pengajar terutama untuk bidang-bidang tertentu
  3. Masih kurangnya jumlah tenaga administrasi beserta bidang keahlian yang dibutuhkan

 Kurikulum

Berdasarkan kompetensi yang diharapkan di atas, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota telah mengembangkan struktur kurikulum yang berbasiskon kompetensi. Hanya saja dalam pelaksanaannya, kurikulum tersebut belum didukung oleh sarana dan prasarana penunjang pengajaran. Berkaitan dengan hal tersebut, hal yang dirasakan paling mendesak dibutuhkan adalah pengembangan metode pembelajaran. Belum Optimalnya pengembangan metode pembelajaran menyebabkan kurikulum berbasiskan kompetensi tidak berjalan dengan baik

Seleksi Mahasiswa

Berdasarkan hasil pertemuan dengan stakeholders di lingkungan Prodi PWK, penurunan nilai SPMB dan perolehan rangking di ITS diduga disebabkan karena menurunnya minat calon mahasiswa yang memilih program studi ini. Penurunan nilai ini ternyata juga berkorelasi dengan penurunan kualitas SDM mahasiswa di Prodi PWK. Unutk mengatasi permasalahan ini diperlukan perancangan sistem pembelajaran yang baik, sehingga kurikulum yang telah didesai berbasiskan kompetensi dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa.

Tenaga Administrasi

Jumlah tenaga administrasi masih sangat kurang dibandingkan dengan beban tugas yang harus mereka hadapi. Di samping itu, kompetensi yang mereka miliki juga belum mendukung untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Hal ini sangat dirasakan dalam pelaksanaan kegiatan Prodi PWK sehari-hari, dimana kinerjanya belum dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar. Namun demikian, permasalahan ini diperkirakan dapat teratasi secara strategis dengan mengupayakan sistem prosedur baku pelaksanaan

Makalah E-Bisnis

READ MORE & DOWNLOAD —>

A. E-Commerce

E-commerce adalah dimana dalam satu website menyediakan atau dapatmelakukan Transaksi secara online atau juga bisa merupakan suatu cara berbelanja atau berdagang secara online atau direct selling yang memanfaatkan fasilitas Internet dimana terdapat website yang dapat menyediakan layanan “get and deliver“. E-commerce akan merubah semua kegiatan marketing dan juga sekaligus memangkas biaya-biaya operasional untuk kegiatan trading (perdagangan) .

Adapun pendapat mengenai pengertian E-Commerce bahwa E-commerce mengacu pada internet untuk belanja online dan jangkauan lebih sempit. dimana e-commerce adalah subperangkat dari E-Bisnis. cara pembayarannya: melalui transfer uang secara digital seperti melalui account paypal atau kartu credit Sedangkan, E-Bisnis mengacu pada internet tapi jangkauan lebih luas. area bisnisnya terjadi ketika perusahaan atau individu berkomunikasi dengan klien atau nasabah melalui e-mail tapi pemasaran atau penjualan di lakukan dengan internet. dengan begitu dapat memberikan keuntungan berupa keamanan fleksibililtas dan efisiensi. cara pembayarannya yaitu dengan melaui pembayaran digital secara E-Gold dan sudah di akui di seluruh dunia dalam melakukan transaksi online.

Pada umumnya pengunjung Website dapat melihat barang atau produk yang dijual secara online (24 jam sehari) serta dapat melakukan correspondence dengan pihak penjual atau pemilik website yang dilakukan melalui email.
Dalam prakteknya, berbelanja di web memerlukan koneksi ke internet dan browser yang mendukung transaksi elektronik yang aman, seperti Microsoft Internet Explorer dan Netscape Navigator. Microsoft dan Netscape, bekerja sama dengan perusahaan kartu kredit (Visa dan MasterCard), serta perusahaan-perusahaan internet security (seperti VeriSign), telah membuat standar enkripsi khusus yang membuat transaksi melalui web menjadi sangat aman. Bahkan, Visa dan MasterCard menyediakan jaminan keamanan 100% kepada pengguna credit cardnya yang menggunakan e-com.

Adapun proses yang terdapat dalam E-Commerce adalah sebagai berikut :

  1. Presentasi electronis (Pembuatan Website) untuk produk dan layanan.
  2. Pemesanan secara langsung dan tersedianya tagihan
  3. Secara otomatis account pelanggan dapat secara aman (baik nomor rekening maupun nomor kartu kredit).
  4. Pembayaran yang dilakukan secara langsung (online) dan penanganan transaksi.

Adapun keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan transaksi melalui E-Commerce bagi suatu perusahaan adalah sebagai berikut :

READ MORE & DOWNLOAD —>

TUGAS MANAJEMEN STRATEGIK

TUGAS MANAJEMEN STRATEGIK

 

TUGAS PERTEMUAN I

PERBEDAAN STRATEGI DAN TAKTIK

PERUSAHAAN PT. INDOFOOD TAHUN 2009

  

Logo Narotama

 

 DISUSUN OLEH :

IKA YULIA                              01112059

 

UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA

TAHUN 2014

I. Visi dan Misi PT. INDOFOOD

visi  Indofood : to become a total food solutions company

PT. Indofod berusaha untuk menjadi  perusahaan bagi solusi penyedia makanan  dari kebutuhan yang ada dan selalu berusaha total dam operasinya.

 

Misi Indofood :

–          untuk terus meningkatkan Sumber Daya Manusia, proses dan technology

–          untuk terus meningkatkan kualitas terbaik, innovative dan menghasilkan produk yang terjangkau oleh pembeli

–          menjamin ketersediaan produk untuk memenuhi pembeli dalam dan luar negeri

–          berkontribusi dalam memperbaiki kualitas pemenuhan nutrisi masyarakat Indonesia

–          untuk terus meningkatkan laba perusahaan

 

II.      Internal Assessment

1. Value and Culture

Dari semboyan yang menunjukkan nilai perusahaan ini, Indofood ingin menunjukkan bahwa mereka adalah perusahaan yang ingin selalu memenuhi dan memuaskan kebutuhan konsumen yang merupakan factor yang menentukan kesuksessan perusahaan, melalui staff yang handal yang merupakan asset terbesar yang dimiliki oleh Indofood dan dengan didukung melalui inovasi-inovasi yang terus dilakukan untuk mencapai hasil yang excellence dengan mengandalkan kinerja tim.

2. Marketing

Produk yang diproduksi oleh Indomie adalah mie berkualitas tinggi dengan berbagai macam varians. AdaIndomie goreng, Indomie rasa soto, Indomie Kari Ayam, dan bahkan ada Indomie citarasa tradisional seperti rasa Cakalang, soto Betawi dan soto Madura, selain itu juga ada Indomie duo dan Indomie goreng Premium.Hal tersebut menunjukan bahwa Indomie ingin terus memberikan mie yang berkualitas kepada konsumennya, dengan juga terus melakukan inovasi untuk menghasilkan cita rasa mie yang sesuai dengan selera konsumen.Segmen utama yang dituju oleh Indomie adalah segmen pasar Indonesia dengan targetnya adalah kalangan kelas menengah ke atas. Target terebut jujga dipertimbangkan karena produk Indomie merupakan produk yang health conscious, sehingga dinilai sesuai untuk kalangan menengah ke atas yang sudah mulai mengutamakan aspek kesehatan dalam mengkonsumsi suatu produk. Akan tetapi saat ini Indomie telah mulai merambah pasar luar negeri. Dan mengenai masalah target pasarnya, walaupun target utamanya adalah kalangan menengah ke atas, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk semua kalangan menikmati produk Indomie, dikarenakan sangat banyak warung-warung kecil yang menjual produk Indomie, maupun warung-warung Indomie pinggir jalan yang membuat Indomie siap makan.

 

Akktivitas pemasaran yang dilakukan Indomie untuk menjual produknya tergolong cukup gencar dan terintegrasi. Apalagi ketika Wingsfood dengan mie sedap-nya muncul sebagai kompetitor baru yang agresif,Indofood juga menjadi lebih agresif dalam belanja iklan. Walaupun Indomie bukanlah produk utama yang digunakan untuk melawan mie sedaap, akan tetapi hal tersebut tetap memicu kenaikan biaya pemsaran yang digunakan oleh Indomie.Penetapan harga produk Indomie berbeda dengan produk Indofood lainnya, hal tersebut dikarenakan aspek target pasar yang dtuju oleh Indomie adalah kalangan menengah ke atas, sehingga Indomie sebgai produk yang lebih elegan mempunyai harga yang sedikit lebih mahal. Dalam penentuan harga, suppliers tidak terlalu mempengaruhi penetapan harga produk Indomie, dikarenakan Indofood menguasai jaringan produk ini dari hulu ke hilir, sehingga yang memungkinkan adanya perubahan harga misalnya adalah ketika memang terjadi perubahan harga bahan baku utama yang cukup siginifikan.

3. Produksi

Indomie ternyata sudah merambah produksinya hingga Nigeria, arab Saudi, dan mesir, namun pembangunan pabrik disana masih dalam tahap penjajakan. Bagi Indomie kegiatan proses produksi adalah suatu kegiatan terpenting bagi perusahaan. Karena dengan berlangsungnya proses produksi yang efektif dan efisien , diharapkan kebutuhan konsumen atau pasar dapat terpenuhi. Proses produksi dapat berjalan dengan lancar apabila ketersediaan akan bahan baku mencukupi. Pengertian bahan baku dalam hal ini adalah sebagai bagian dari aktifa yang meliputi bahan baku, ataupun barang setengah jadi yang akan mengalami suatu proses produksi. Pada prinsipnya persediaan bahan baku ditujukan untuk mempermudah atau memperlancar jalannya operasi perusahaan yang harus dilakukan secara berurutan dalam upaya memproduksi barang jadi atau produk.

4. Distribusi

Indofood memiliki satu grup tersendiri yang menangani pendistribusian produk-produknya yaitu Grup Distribusi Indofood. Grup distribusi Indofood sangat berperan dalam meningkatkan penjualan produknya.Peningkatan penjualan pada tahun 2007 misalnya, merupakan satu hasil kerja keras dari Grup distribusi Indofood, dan tentu saja hasil dari output bagian-bagian lain pula. Indofood dalam pendistribusiannya concern sekali dengan stock point yang ada di kawasan-kawasan startegis, yang dapat menjamin kelancaran distribusi produk ke ritel-ritel. Penetrasi yang dalam juga telah dilakukan oleh grup ini dengan menambah stock point, sehingga dapat meningkatkan jumlah ritel yang dilayani dan dapat menjangkau kawasan-kawasan pedesaan. Dalam konteks produk Indofood adalah mi instant, pendistribusiannya dapat dikatakan sudah cukup dalam,paling tidak menurut pendapat penulis. Hal tersebut terindikasi dari tersebarnya warung-warung yang khusus menjual indomie yang siap makan. Selain itu, indikasi lain adalah keberadaan indomie di warung-warung kecil selain tentu saja keberadaannya di setiap supermarket di pelosok Indonesia.Dan berdasarkan survey yang dilakukan oleh Qasa Consulting, kekuatan distribusi Indomie terbukti, dalamThe Most Powerfull Distribution Performance tahun 2007, yang mencapai 95%, sedangkan Mi Sedaap yang merupaklan pesaingnya mempunyai kekuatan distribusi sebesar 73%.

III.                Tujuan Jangka Panjang

Tujuan jangka panjang dari indomie adalah menguasai pasar mie instant di Indonesia . Tujuan jangka panjang indomie di toping oleh tujuan-tujuan strategisnya yaitu :

–          Menghadirkan mie instant yang berkualitas namun dengan harga yang terjangkau

–          Memelihara kesetiaan pelanggan dan distributor

–          Memberikan harga yang kompetitif dengan menekan biaya produksi melalui penghematan biaya dari hulu sampai hilir (dari supplier sampai

distributor)

Selain itu, indomie pun menggunakan tujuan keuangan sebagai gambaran tercapainya tujuan strategis dan tujuan jangka panjang. Misalnya saat profit margin turun dan penghasilan menjadi 2,1 % di tahun 2007, yang disebabkan biaya produksi yang besar, maka diantisipasi dengan melakukan penghematan di lini produksinya dengan menggunakan sumber energy yang lebih murah.

IV.                Strategi SBU Noodle dalam Persaingan

Indomie kini berada di tengah-tengah persaiangan yang ketat. Setelah sekian lama menikmati persaingan yang “hampa”, mulai pada tahun 2003, tepatnya pada bulan Mei, Indomie harus menghadapi gempuran produk baru yang cukup sensasional, Mie Sedap. Produk Mie berbendera Wingsfood tersebut sangat agresif dalam menggarap pasar yang selama kurun waktu sebelum 2003 dikuasai oleh Indomie. Selain itu, muncul pula pesaing baru, Mie Kare dari Orang Tua Group. Pada saat itu, sebagai dominant market leader, Indofood sempat terlena me-maintain pasarnya sehingga kesempatan ini dimanfaatkan oleh pendatang baru Mie Sedap dari Wingsfood dan Mie Kare dari Orang Tua Group.

 

Persaingan yang muncul secara tiba-tiba tersebut membuat Indofood seolah tersentak sebagai akibat dari ketidaksiapannya menghadapi persaingan dari para competitior baru, pangsa pasar Indofood mulai terkikis. Menurut data MIX, pada tahun 2002 Indofood masih menguasai pasar mie sebesar 90 %. Begitu Mie Sedap masuk pada Mei 2003, dengan rasa baru, harga kompetitif, dan promo yang gencar, pangsa pasar Indofood mulai goyah. Pada 2006 pangsa pasar Indofood turun diperkirakan menjadi sekitar 75 %. Pangsa pasar 25% sisanya diperebutkan oleh pesaingnya.

 

Dalam persaingan yang mulai memanas dan mulai memangkas pangsa pasar Indofood tersebut, Indofood tidak tinggal diam. Indofood dalam rangka menghadapi persaingan dengan Wingsfood dan competitor lainnya dalam industry mie instan di Indonesia dan tentunya dalam rangka mencapai visi dan misinya. Strategi perusahaan secara garis besar dibagi menjadi 4 yaitu strategi integritas, strategi intensive, strategi diversifikasi dan strategi defensive.

 

–          Strategi integrasi merupakan sebuah strategi yang dilakukan untuk dapat mengintegrasikan pemasok distributor dan pesaing kedalam sebuah                     wadah yang dapat dikontrol oleh perusahaan. Yang termasuk strategi integrasi adalah integrasi ke depan, integrasi ke belakang dan integrasi                       horizontal.

–          Strategi Intensif

Perusahaan membutuhkan usaha yang dilakukan denga sungguh-sungguh untuk memperbaiki posisi perusahaan dalam persaingan. Yang                              termasuk strategi intensif adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar dan pengembangan produk.

–          Strategi Diversifikasi

Strategi diversifikasi dilakukan oleh perusahaan induk dengan memasuki bidang industry baru. Strategi diversifikasi terdiri dari 3 strategi yaitu              diversifikasi konsentrik, diversifikasi horizontal, dan diversifikasi konglomerat. Strtaegi tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan                perusahaan terhadap satu bidang industry. Dalam kaitannya dengan SBU Noodle milik Indofood, pembebasan strategi ini tidak relevan karena                  SBU Noodle merupakan suatu unit bisnis yang tidak mempunyai kewengangan untuk melakukan perluasan bidang industry. Akan relevan jika                  pemahasan strategi diversifikasi dikaitkan dengan perusahaan induk yaitu Indofood.

Namun barangkali menurut pemahaman diversifikasi konsentrik, strategi SBU Noodle untuk meluncurkan Pop Mie bisa di golonggkan kedalam strategi diversifikasi. Dengan konsep pengemasannya yang berbeda walaupun merupakan produk mie juga, Pop Mie menjadi produk hasil diversifikasi SBU Noodle. Dari hal tersebut diatas, dapat dibuat kesimpulan bahwa SBU Noodle telah melakukan strategi diversifikasi konsentrik dengan menghadirkan Pop Mie ke Dalam Pasar.

 

–          Strategi Defensif

Strategi defensive digolongkan menjadi 3 yaitu strategi retrenchment, strategi divestasi, dan strategi likuidasi. Strategi retrenchment terjadi                       ketika suatu perusahaan melakukan turnaround. Penjualan asset-aset perusahaan untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan termasuk ke             dalam strategi retrenchment. Divestasi adalah strategi terkait penjualan divisi perusahaan untuk meningkatkan modal. Likuidasi adalah strtaegi                 yang digunakan dalam kondisi perusahaan yang sudah merugi besar dan kondisi keuangan yang negative. Likuidasi dilakukan dengan menjual                   seluruh asset-aset perusahaan.

 

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka strategi tersebuttidak berada pada level SBU melainkan berada pada level perushaaan induk. Oleh karena itu, maka tidak perlu menjelaskan strategi-strategi tersebut dalam kaitannya dengan SBU Noodle.

V.                  Implementasi Strategi

Implementasi strategi mempengaruhi semua area fungsional dan divisional dari suatu bisnis. Bahkan rencana strategis yang secara teknik paling sempurna sekalipun hanya akan memebri sumbangan yang kecil bagi pencapaian tujuan jika tidak dimplementasikan. Banyak organisasi cenderung menghabiskan dan menghamburkan waktu, uang, dan usaha untuk mengembangkan rencana strategis, memperlakukannya seolah-olah ia akan diimplementasikan hanya akan sebagai tambahan belaka. Perubahan datangnya melalui implentasi dan evaluasi, tidak dari perencanaan.  Rencana yang secara teknis kurang sempurna apabila diimplementasikan dengan baik dapat meraih hasil yang lebih baik dibandingkan rencana yang sempurna namun hanya ada di atas kertas.

 

Jawaban dari tugas pertemuan I :

1.       Perbedaan Strategi dan Taktik adalah :

Strategi adalah pendekatan (cara) umum yang dilakukan suatu organisasi atau perusahaan untuk mencapai dan memperoleh tujuan. Sedangkan taktik adalah cara-cara yang bersifat spesifik yang dilakukan untuk menerapkan strategi yang dipilih.

Strategi

–          Perumusan Strategi adalah memosisikan kekuatan sebelum dilakukannya tindakan.

Dalam hal ini dapat dilihat dari Visi PT. Indofood yaitu menhasilkan produk yang inovatif dalam nutrisi makanan instant.

–          Perumusan Strategi bisa dilihat dari jangka waktunya yaitu biasanya bersifat jangka panjang lima sampai sepuluh tahun ke depan apa yang ingin                dicapai oleh perusahaan.

–          Perumusan Strategi Berfokus pada efektivitas

–          Perumusan Strategi terutama adalah proses intelektual. Rencana strategi perusahaan di susun oleh top management dalam perusahaan.

–          Perumusan strategi membutuhkan keahlian intuitif dan analisis yang baik.

–          Perumusan strategi membutuhkan koordinasi di antara beberapa individu.

 

Taktik

–          Taktik berisi bagaimana cara untuk menjalankan strategi Perusahaan (bagaimana mengimplementasikan strategi perusahaan). Ini bisa dilihat                     dalam Misi Perusahaan. Dan dilakukannya strategi-strategi dalam pengembangan produk untuk mencapai tujuan perusahaan.

–          Taktik adalah mengelola kekuatan yang mengelola semua hal selama tindakan dijalankan.

–          Taktik biasanya bersifat jangka pendek untuk 1 tahun kedepan.

–          Taktik biasanya disusun oleh middle management perusahaan. Setiap manager divisi membuat rencana untuk menjalankan strategi dari                                 perusahaan.

2.       Cara untuk mengimplementasikan manajemen strategi

Adalah dengan :

–          Mengimplementasikan taktik yang dibuat oleh middle manajemen, biasanya dilakukan low manajemen

–          Implementasi Strategi berfokus pada efektivitas

–          Implementasi strategi terutama adalah proses operasional

–          Implementasi membutuhkan motivasi khusus dan keahlian kepemimpinan.

–          Implementasi strategi membutuhkan koordinasi di antara banyak individu

Contoh pada PT Indofood adalah semua divisi mempunyai taktik dari penjabaran manajemen strategi dalam bidang devisinya  baik dalam bidang SDM, Pemasaran dan Produk. Dalam perencanaan strategi tersebut pihak low managemen bertugas untuk melaksanakan dalam kegiatan operasionalnya untuk mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu, sangat esensial untuk melibatkan manajer divisional dan fungsional dalam perumusan strategi.

 

Sumber : http://id.scribd.com/doc/135705112/Analisis-Manajemen-Stratejik-Pt-Indofood

Makalah SI : Sistem Elektronik Commerce

Makalah SI E-Commers

Makalah SI : Sistem Elektronik Bisnis

Makalah SI : Sistem Elektronik Busnis

Makalah SI : Jaringan DanTelekomunikasi

Makalah SI Jaringan Dan Telekomunikasi